Japan

Free JAPAN Cursors at www.totallyfreecursors.com

Cuaca Yogyakarta

Helikopter

Welcome

ADVERTISEMENT

Tampilkan postingan dengan label Animal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Animal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Oarfish, Ikan Pendeteksi Gempa Dengan Skala Besar

Bencana tsunami besar melanda pantai timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Bencana itu terjadi setelah sebuah gempa dahsyat dengan kekuatan 8,9 Skala Richter.

Sistem keamanan darurat Jepang, saat terjadi tsunami, tampak bekerja dengan bagus memberi peringatan kepada rakyatnya. Namun,  tampaknya sistem peringatan dini itu masih kalah cepat dengan peringatan yang disampaikan oleh kelompok ikan oar (oarfish).

http://fishingminnesota.com/forum/file/userpics/2011/03/full-2952-6952-oarfish.jpg

Tanda-tanda bencana itu, sepertinya telah dirasakan seminggu sebelum kejadian oleh sekelompok oarfish. Kawanan ikan itu ditemukan terdampar di pantai Jepang, seminggu sebelum tsunami menyapu kawasan pantai timur Jepang.

Kejadian itu, dituliskan oleh laman dailyonigiri.com. Laman itu menuliskan, seminggu sebelum terjadinya gempa besar dan tsunami itu, ditemukan banyak oarfish yang tersapu di daratan pantai Jepang dan sebagian tersangkut di jaring nelayan.

Sebelumnya, laman The Telegraph juga pernah memuat artikel tentang oarfish yang muncul ke permukaan sebelum terjadi gempa besar di Cili dan Haiti pada 2010 silam.

http://img1.dailyonigiri.com/oarfish-sand.jpg

Yang menarik, Oarfish ini diduga bisa mendeteksi terjadinya gempa besar. Mengapa demikian?

Oarfish biasanya tinggal di laut dengan kedalaman 1 km (lebih dari 3.000 kaki). Jenis ikan ini sangat jarang ditemukan hidup di laut dengan kedalaman kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Ikan ini bisa tumbuh dengan panjang lebih kurang 17 meter (56 kaki).

Menurut kebiasaan kuno Jepang, ikan ini berenang ke permukaan dan pantai sebagai pertanda datangnya gempa bumi. Selain itu, juga terdapat teori ilmiah yang mengatakan binatang lebih sensitif bergerak ke permukaan dari pada manusia.

http://www.ripleys.com/files/2010/03/devilfish.jpg

Beberapa ilmuan percaya ikan yang hidup di laut dalam sangat sensitif  terhadap gerakan bumi dan biasanya selalu mendahului terjadinya gempa bumi. Meski demikian, kebanyakan ahli gempa tidak melihat hubungan ilmiah antara fenomena oarfish dengan gempa bumi.

Tapi, apakah mungkin ikan-ikan itu mengetahui apa yang terjadi di bawah permukaan? Pada zaman kuno, ketika belum memiliki peralatan yang canggih, orang-orang Jepang mempercayai beberapa ikan, terutama lele, sebagai pertanda akan terjadinya bencana gempa.

Selasa, 10 Mei 2011

Lalat Berbulu yang Tak Bisa Terbang

TEMPO Interaktif, Jakarta – Mormotomyia hirsuta, atau lalat dengan bulu lebat, pertama kali ditemukan dalam gua batu di Kenya, Afrika, sekitar 60 tahun silam.
Sayapnya tak terlalu besar sehingga tak bisa terbang. Matanya kecil dan merah, tak seperti mata lalat pada umumnya.
Serangga ini lebih menyerupai laba-laba ketimbang lalat. Para ilmuwan pertama kali menemukannya pada 1933. Lalu, ditemukan lagi pada 1948.
Robert Copeland dari International Center of Insect Physiology and Ecology and Texas A&M University mengatakan, "Karena Mormotomyia tak bisa terbang, kemungkinan besar habitatnya tak terlalu menyebar."
"Jika benar, seluruh pegunungan Ukazi, tempat ditemukannya makhluk kecil ini, harus dinyatakan sebagai kawasan konservasi yang dilindungi," katanya.
Lalat berbulu kuning itu kembali ditemukan oleh Copeland dan rekannya Ashley Kirk-Spriggs di Pegunungan Ukazi baru-baru ini. Selain itu, lalat tersebut terlihat di Thika-Garissa Road.
Seperti kebanyakan makhluk hidup, lalat jantan memiliki bulu yang lebih lebat daripada sang betina.
Menurut Copeland, selain jumlahnya lebih sedikit, bulu di tubuh lalat betina lebih pendek jika dibanding lalat jantan.
Para ilmuwan belum dapat memastikan penyebab lebatnya bulu di serangga itu. Namun Copeland berspekulasi bahwa bulu-bulu tersebut untuk menarik perhatian lawan jenis.
Penjelasan lain tentang kegunaan bulu yang lebat ini, menurut Copeland, adalah sebagai penyamaran. Atau mungkin untuk mengusir predatornya.
"Tapi, pertanyaannya, mengapa lalat betina memiliki bulu yang pendek dan tak sebanyak lalat jantan?" ucap Copeland.
Dari 150 ribu lebih spesies lalat yang ada di muka bumi, dapat dikelompokkan dalam 100 famili. Tapi tak ada satu spesies pun yang memiliki bulu sebanyak Mormotomyia hirsuta.
Masih banyak hal yang belum terungkap tentang makhluk kecil ini. Copeland berencana melakukan penelitian lebih lanjut dan mengungkapkannya pada tesisnya dalam waktu dekat.
sumber : Selasa, 14 Desember 2010 | 06:54 WIB
TEMPO Interaktif – FIRMAN

Tarsius tarsier

Tarsius tarsier
Spectral Tarsier.jpg
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Famili: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Erxleben, 1777
Spesies: T.tarsier
Nama binomial
Tarsius tarsier
(Erxleben, 1777)
Sinonim
Tarsius spectrum (Pallas, 1779)
Tarsius tarsier (Binatang Hantu/Kera Hantu/Monyet Hantu) adalah suatu jenis primata kecil, memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar.
Nama Tarsius diambil karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar yang digunakan untuk grooming.
Yang paling istimewa dari Tarsius adalah matanya yang besar. Ukuran matanya lebih besar jika dibandingkan besar otaknya sendiri. Mata ini dapat digunakan untuk melihat dengan tajam dalam kegelapan tetapi sebaliknya, hewan ini hampir tidak bisa melihat pada siang hari. Kepala Tarsius dapat memutar hampir 180 derajat baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, seperti burung hantu. Telinga mereka juga dapat digerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa.
Tarsius adalah makhluk nokturnal yang melakukan aktivitas pada malam hari dan tidur pada siang hari. Oleh sebab itu Tarsius berburu pada malam hari. Mangsa mereka yang paling utama adalah serangga seperti kecoa, jangkrik, dan kadang-kadang reptil kecil, burung, dan kelelawar. Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng. Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina. Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Tarsius lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan "balao cengke" atau "tikus jongkok" jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia.
Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah.

Sabtu, 07 Mei 2011

Binatang Langka Dari Dasar Laut

Leafy sea dragon, atau dlm bhs indonesia Naga laut berdaun bila dilihat memang ada keanehan yaitu binatang laut ini berbadan semacam dedaunan di sekujur tubuhnya
Hal ini adalah merupakan alat kamuflase untuk mempertahankan diri maupun untuk mencari makanan, binatang ini ditemukan di lautan Australia dan mempunyai panjang 45 cm, dan untuk jenis betina bisa menyimpan 250 telur berwarna pink menyala di bawah ekornya





Fenomena Misterius Anak Pinguin

Salah satu ciri khas penguin adalah tubuhnya yang berbalut bulu tebal berwarna hitam dan putih yang membuatnya tampak seperti mengenakan tuksedo. Namun sejumlah anak penguin di Atlantik Selatan kehilangan ciri tersebut, tak ada sehelai bulu pun tumbuh menutupi badannya.



Penemuan anak penguin bugil itu membuat para ilmuwan dari Wildlife Conservation Society (WCS), University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, dan sejumlah kelompok lingkungan lain berusaha memecahkan penyebab kondisi tersebut. Penguin bugil yang menderita gangguan tak berbulu itu ditemukan dalam koloni penguin di kedua sisi Atlantik Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

"Gangguan hilangnya bulu itu bukan sesuatu yang lazim ditemukan pada sebagian besar spesies burung," kata P. Dee Boersma, dari Wildlife Conservation Society dan University of Washington. "Kami harus melakukan studi lanjutan untuk mengetahui penyebab kelainan itu serta memeriksa apakah gangguan ini tersebar pada spesies penguin lain."

Penyakit hilangnya bulu pada anak penguin itu pertama kali dideteksi di Cape Town, Afrika Selatan, pada 2006. Pada saat itu, peneliti dari Yayasan Afrika Selatan untuk Konservasi Burung Pantai (SANCCOB) mengobservasi gangguan tersebut untuk pertama kalinya pada penguin Afrika di sebuah pusat rehabilitasi.

Pada tahun itu, sekitar 59 persen anak penguin di fasilitas tersebut kehilangan bulu-bulu mereka, lalu diikuti 97 persen bayi penguin pada tahun berikutnya. Pada 2008, 20 persen penguin muda yang dirawat juga menunjukkan gangguan itu. Anak penguin yang menderita gangguan itu membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh mencapai ukuran yang sesuai untuk dilepas kembali ke alam. Kelainan itu tak berlangsung lama. Pada akhirnya, anak penguin itu mulai menumbuhkan bulu baru.

Kelainan itu juga ditemukan pada anak penguin Magellan liar di pesisir Argentina pada 2007. Para ilmuwan juga mencatat bahwa, berbeda dengan anak penguin normal yang mencari naungan dari teriknya matahari siang, anak penguin gundul tetap berjemur. Selama studi, beberapa anak penguin penderita kelainan itu mati.

Selain tumbuh lebih lambat, anak penguin bugil itu lebih kecil dan ringan daripada anak penguin normal. Perbedaan itu terjadi karena peningkatan energi yang diperlukan untuk fungsi pengaturan panas akibat hilangnya insulasi mantel bulu. Para ilmuwan menduga penyebab hilangnya bulu itu adalah bakteri patogen, gangguan thyroid, serta ketidakseimbangan nutrisi atau genetika. "Munculnya gangguan itu pada populasi burung liar menunjukkan bahwa kelainan tersebut sesuatu yang baru," kata Mariana Varese, dari WCS Amerika Latin dan Karibia.

Para ilmuwan berusaha keras menghentikan penyebaran gangguan ini. "Penguin telah menghadapi masalah polusi minyak dan variasi iklim," kata Boersma. "Sangat penting kita berusaha mencegah penyakit ini, yang menambah daftar ancaman bagi penguin."

Minggu, 01 Mei 2011

Velociraptor

Velociraptor
Rentang fosil: Late Cretaceous
Velociraptor skeletal by Scott Hartman.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Superordo: Dinosauria
Ordo: Saurischia
Upaordo: Theropoda
Famili: Dromaeosauridae
Genus: Velociraptor
Osborn, 1924
Species
V. mongoliensis Osborn, 1924
Velociraptor (arti 'burung pemangsa gesit') adalah sejenis pemangsa seperti Tyrannosaurus, hanya berbadan lebih kecil dan biasa hidup berkelompok. Strategi menyerang mereka lebih pintar daripada dinosaurus lainnya. Mereka menggunakan penarik perhatian untuk mengalihkan perhatian mangsa mereka, yang sebenarnya mangsa mereka telah dikepung.

[sunting] Deskripsi

Velociraptor dibandingkan dengan manusia
Velociraptor hidup di akhir Zaman Kretasius sekitar 65-71 juta tahun yang lalu. Ia termasuk dalam sub-ordo Dromaesauridia yang memiliki ukuran tubuh sedang, dengan panjang sekitar 5 kaki (1.5 meter) dan tinggi 3 kaki (1 meter) dan berat sekitar 15-30 pound (7-14 kilogram) . Seperti Dromaesauridia lainnya, tubuh Velociraptor kemungkinan memiliki bulu. Selain itu, mereka memiliki sebuah cakar besar berbentuk melengkung, yang kemungkinan digunakan untuk menusuk atau merobek tubuh korbannya,dan juga menyerangnya dengan kuku kaki yang tajam.
Velociraptor mongoliensis dengan bulu sayap besar.
Velociraptor (arti 'burung pemangsa gesit') adalah sejenis pemangsa seperti Tyrannosaurus, hanya berbadan lebih kecil dan biasa hidup berkelompok. Strategi menyerang mereka lebih pintar daripada dinosaurus lainnya. Mereka menggunakan penarik perhatian untuk mengalihkan perhatian mangsa mereka, yang sebenarnya mangsa mereka telah dikepung.
Velociraptor dibandingkan dengan manusia
Velociraptor hidup di akhir Zaman Kretasius sekitar 65-71 juta tahun yang lalu. Ia termasuk dalam sub-ordo Dromaesauridia yang memiliki ukuran tubuh sedang, dengan panjang sekitar 5 kaki (1.5 meter) dan tinggi 3 kaki (1 meter) dan berat sekitar 15-30 pound (7-14 kilogram) . Seperti Dromaesauridia lainnya, tubuh Velociraptor kemungkinan memiliki bulu. Selain itu, mereka memiliki sebuah cakar besar berbentuk melengkung, yang kemungkinan digunakan untuk menusuk atau merobek tubuh korbannya,dan juga menyerangnya dengan kuku kaki yang tajam.
Velociraptor mongoliensis dengan bulu sayap besar.
Velociraptor juga termasuk pintar bila dibandingkan dengan dinosurus lainnya, dan hal ini membuat mereka mampu bersaing dengan predator besar lain yang hidup di tempat yang sama. Fosilnya ditemukan di daerah Mongolia, Rusia, dan Cina.[1]

Pteranodon

Pteranodon
Rentang fosil: Mid-Late Cretaceous
Pteranodon 
sternbergi
Pteranodon sternbergi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Ordo: Pterosauria
Upaordo: Pterodactyloidea
Superfamili: Ornithocheiroidea
Famili: Pteranodontidae
Genus: Pteranodon
Marsh, 1876
Species
  • P. longiceps (type)
  • P. sternbergi
Pteranodon (pengucapan /tɨˈrænədɒn/; dari bahasa Yunani Kuno πτερ- "sayap" dan αν-οδων "tak bergigi"), dari Zaman Kapur Akhir (Coniacian-Campanian, 89,3-70,6 juta tahun yang lalu) Amerika Utara (Kansas, Alabama, Nebraska, Wyoming, dan South Dakota), adalah jenis pterosaurus besar dengan bentang sayap mencapai 9 meter.

Plesiosaurus

Plesiosaurus
Rentang fosil: Jurasik Awal
Plesiosaurus 3DB.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Superordo: Sauropterygia
Ordo: Plesiosauria
Upaordo: Plesiosauroidea
Famili: Plesiosauridae
Gray, 1825
Genus: Plesiosaurus
Conybeare, 1821
Species
Plesiosaurus (bahasa Yunani: plesios, berarti dekat dengan + sauros, berarti kadal) adalah jenis reptil laut berleher panjang dari ordo plesiosauria yang hidup di air. Termasuk jenis karnivora, karena hidup di air membuatnya harus memakan ikan.
Plesiosaurus hidup pada masa awal periode Jurasik. Temuan tulang fosilnya yang hampir sempurna ditemukan di Inggris dan Jerman. Ia memiliki kepala yang kecil, leher panjang dan ramping, tubuh berbentuk kura-kura, ekor pendek, serta 2 pasang kaki berbentuk dayung yang panjang.

Tyrannosaurus rex

Tyrannosaurus
Rentang fosil: Cretaceous Akhir, 68.5–65.5 Ma
Tengkorak Tyrannosaurus rex, Palais de la 
Découverte, Paris.
Tengkorak Tyrannosaurus rex, Palais de la Découverte, Paris.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Superordo: Dinosauria
Ordo: Saurischia
Upaordo: Theropoda
(tidak termasuk) Coelurosauria
Superfamili: Tyrannosauroidea
Famili: Tyrannosauridae
Upafamili: Tyrannosaurinae
Genus: Tyrannosaurus
Osborn, 1905
Spesies
  • T. rex (tipe)
    Osborn, 1905
Sinonim
Tyrannosaurus rex (Tyrannosaurus, arti 'kadal yang kejam' / rex, arti 'raja) merupakan dinosaurus jenis karnivora yang terbesar. T-rex dapat tumbuh sepanjang 12 meter (sekitar 40 kaki)dan berat mencapai 7 ton . Dinosaurus ini memangsa dinosaurus herbivora besar seperti triceratops dan edmontosaurus yang merupakan herbivora terbesar di saat itu. Selain itu tyrannosaurus juga diketahui memiliki salah satu gigitan terkuat dibanding hewan lain yang pernah ada.
Meskipun tubuh dan kepalanya amat besar tyrannosaurus memiliki suatu kejanggalan, yaitu tangannya yang amat kecil. Tyrannosaurus kemungkinan memakainya untuk bangkit dari tanah saat berbaring. Selain itu ada sedikit bukti kalau mereka memiliki bulu. Tengkorak tyrannosaurus sendiri panjangnya kurang lebih 1,5 meter (sekitar 5 kaki)[1]. Rahangnya memiliki gigi yang amat besar sepanjang kurang lebih 15 cm (terbesar). Panjang tubuh monster ini kemungkinan sekitar 12-13 meter.T-rex dapat berlari hingga 70 km/jam,letak matanya pada kepalanya mirip dengan serigala.
Tyrannosaurus kemungkinan berperilaku sama seperti buaya dan dan reptil modern lainnya, hal ini diketahui dari bentuk otak mereka yang amat mirip dengan buaya dan aligator. Dalam catatan fosilnya juga ditemukan sedikit bukti perilaku sosial.

Dimetrodon

Dimetrodon
Rentang fosil: Permian Awal - Tengah
Dimetrodon grandis
Dimetrodon grandis
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Synapsida
Ordo: Pelycosauria
Upaordo: Eupelycosauria
Famili: Sphenacodontidae
Genus: Dimetrodon
Cope, 1878
Species
  • D. milleri
  • D. natalis
  • D. limbatus
  • D. booneorum
  • D. gigashomogenes
  • D. grandis
  • D. loomisi
  • D. angelensis
  • D. teutonis
Dimetrodon adalah sejenis synapsida ('mamalia mirip reptil') genus yang berkuasa selama Permian Period, hidup antara 280-265 juta tahun lalu. Ia lebih terkait erat dengan mamalia dibandingkan reptilia seperti kadal.
Dimetrodon juga bukan dinosaur, walaupun umumnya dikelompokkan dengan mereka. Sebaliknya, ia diklasifikasikan sebagai pelycosaur. Dimetrodon orang tua yang telah ditemukan di Amerika Utara dan Eropa, serta penemuan jejak kaki Dimetrodon yang signifikan di selatan New Mexico oleh Jerry Macdonald.
Dimetrodon adalah predator dominan, dan salah satu yang terbesar di zamannya. Ia dapat tumbuh sepanjang 3 meter (10 kaki. Nama Dimetrodon berarti 'dua ukuran gigi', dikarenakan ia memiliki tengkorak besar dengan dua jenis gigi yang berbeda, tidak seperti reptil. Dimetrodon berjalan dengan empat kaki di samping tubuhnya dan memiliki ekor berukuran besar, diduga Dimetrodon berjalan dengan cara yang sama seperti kadal modern.

[sunting] Sirip

Two Dimetrodon skeletons at the Royal Tyrrell Museum.
Yang paling menarik dari penampilan Dimetrodon adalah sirip menakjubkan dari punggungnya (pelycosaurus lain seperti Edaphosaurus, Ianthasaurus, and Sphenacodon juga memiliki ini). Sirip ini, yang penuh dengan pembuluh darah, mungkin saja digunakan untuk mengatur suhu tubuhnya; permukaan kulitnya memudahkannya untuk menghangatkan atau menyejukkan tubuhnya lebih efisien. Adaptasi ini penting karena dapat menambah waktu berburunya. Sirip ini mungkin juga dipakai untuk menarik pasangan atau memperingatkan pemangsa lain. Sirip ini juga di topang oleh urat syaraf, masing-masing tumbuh dari tulang belakangnya. Bramwell dan Fellgett (1973) memperhitungkan bahwa Dimetrodon seberat 200 kg dapat menigkatkan suhu tubuhnya dari 26 °C sampai 32 °C dalam 205 menit tanpa sirip dan hanya 80 menit dengan sirip.[1]

Stegosaurus

Stegosaurus
Fossil skeleton, National Museum of Natural History
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Ordo: Ornithischia
Upaordo: Thyreophora
Famili: Stegosauridae
Genus: Stegosaurus
Marsh, 1877
Species
  • S. armatus (type)
  • S. stenops
  • S. longispinus
Stegosaurus
Terjemahan "roof-lizard"
Tipe armored dinosaur
Panjang 30' (9m)
Tinggi 13' (4m)
Berat 5.5 tons
Gerakan quadruped
Era Jurassic
Umur 155 to 145 million years ago
Diet Herbivore
Lingkungan grassless savanna
Penyebaran North America
Stegosaurus [1] (diucapkan /ˈsteg.əˌsɔː.rəs/) artinya "kadal beratap", karena sisik besar di punggungnya (bahasa Yunani stego = piring/atap + sauros = kadal) adalah sebuah genus dinosaurus herbivora besar dari Awal Jurassic di Amerika Utara. Spesies ini adalah salah satu jenis dinosaurus yang paling mudah diidentifikasi, karena kedua baris sisik yang saling silang di punggungnya (dasar untuk nama ilmiahnya) dan 2 pasang duri panjang di ekornya (disebut thagomizer).
Paleontologis sempat memperdebatkan bagaimana sisik-sisik di punggung Stegosaurus tersusun.Karena sisik tersebut berada di atas lapisan otot punggung (paleontologis bahkan memperkirakan sisik tersebut memiliki pembuluh darah)maka saat Stegosaurus mati dah memfosil, sisik-sisik tersebut terlepas dan saling bertumpukan. Pendapat pertama mengatakan bahwa sisik Stegosaurus menutupi punggungnnya, pendapat kedua mengatakan bahwa sisik-sisik tersebut berdiri tegak dan saling bersebelahan dan pendapat terakhir yang paling disetujui adalah sisik-sisiknya berdiri tegk dengan posisi saling silang.
Satu hal yang sering menimbulkan salah paham mengenai Stegosaurus adalah rongga pada ujung ekornya. Dahulu paleontologis mengira bahwa rongga tersebut berisi otak Stegosaurus, sehingga menimbulkan anggapan bahwa Stegosaurus merupakan Dinosaurus yang pintar karena memiliki 2 otak. Belakangan diketahui bahwa anggapan tersebut adalag salah. Stegosaurus bukanlah Dinosaurus yang cukup pintar karena otaknya hanya sebesar bola golf dan rongga pada ekor Stegosaurus adalah tempat melekatnya otot-otot ekor yang sangat kuat, yang digunakan sebagai alat pertahanan diri dengan mengayunkan ekor berdurinya sekeras mungkin ke arah penyerangnya.

Diplodocus

Diplodocus
Rentang fosil: Jurassic akhir
Tulang Diplodocus carnegiei dari Museum für 
Naturkunde
Tulang Diplodocus carnegiei dari Museum für Naturkunde
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Superordo: Dinosauria
Ordo: Saurischia
Upaordo: Sauropodomorpha
Infraordo: Sauropoda
Famili: Diplodocidae
Genus: Diplodocus
Marsh, 1878
Spesies
  • D. longus Marsh, 1878 (tipe)
  • D. carnegiei Hatcher, 1901
  • D. hayi Holland, 1924
  • D. hallorum (Gillette, 1991) Lucas et al., 2004
Sinonim
  • Seismosaurus Gillette, 199
Diplodocus (pengucapan /dɪˈplɒdəkəs/,[1][2] /daɪˈplɒdəkəs/,[2] atau /ˌdɪploʊˈdoʊkəs/[1]) adalah genus dinosaurus sauropod diplodocid yang fosilnya pertama kali ditemukan pada tahun 1877 oleh S. W. Williston. Dinosaurus ini hidup di Amerika Utara barat pada akhir periode Jurassic.

Brontosaurus

Brontosaurus
Rentang fosil: Akhir Jura
Kerangka Brontosaurus oleh O.C. Marsh
Kerangka Brontosaurus oleh O.C. Marsh
Status konservasi
fosil
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Superordo: Dinosauria
Ordo: Saurischia
Upaordo: Sauropodomorpha
Infraordo: Sauropoda
Famili: Diplodocidae
Genus: Apatosaurus
Nama binomial
Apatosaurus excelsus
(Marsh, 1879) vide Riggs, 1903
Sinonim
  • Brontosaurus excelsus Marsh, 1879c
Brontosaurus (yang berarti "kadal kilat" (dari bahasa Yunani brontē/βροντη artinya 'kilat' dan sauros/σαυρος artinya 'kadal'), adalah sebuah genus dinosaurus sauropoda yang sudah tidak dipakai lagi. Spesies Brontosaurus excelsus dinamakan oleh penemunya Othniel Charles Marsh, pada tahun 1879 dan nama ini tetap dipakai dalam literatur resmi sampai kurang lebih tahun 1974, meskipun sudah dikenal sebagai sebuah spesies dari genus yang telah disebut sebelumya, Apatosaurus, pada tahun 1903. Brontosaurus adalah dinosaurus yang mempunyai leher sangat panjang dan termasuk dinosaurus herbivora, panjang tubuh mereka bisa mencapai 26 meter dengan berat 32 ton, berat ini bisa melebihi 6 ekor gajah. Diperkirakan hidup di zaman Jura. Selain itu musuh utamanya adalah karnivora besar seperti Allosaurus. Habitatnya biasanya di tepi danau dan di hutan. Namun, setelah beberapa tahun nama Brontosaurus diganti kembali menjadi Apatosaurus.

Ankylosaurus

Ankylosaurus
Rentang fosil: Cretaceous Akhir
Tengkorak Ankylosaurus. Specimen ini 
dari Edmonton Formation of Alberta.
Tengkorak Ankylosaurus. Specimen ini dari Edmonton Formation of Alberta.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Superordo: Dinosauria
Ordo: Ornithischia
Upaordo: Thyreophora
Infraordo: Ankylosauria
Famili: Ankylosauridae
Genus: Ankylosaurus
Brown, 1908
Species
  • A. magniventris Brown, 1908 (type)
Ankylosaurus adalah salah satu jenis dinosaurus yang memiliki tubuh sepanjang 9 meter (30 kaki). Ankylosaurus memiliki tubuh yang dilindungi oleh semacam cangkang keras yang membuat tubuhnya tidak bisa diserang dengan mudah, bahkan oleh Tyrannosaurus-Rex. Ekornya panjang lurus dan sangat keras. Jika Ankylosaurus dihadang oleh lawannya, ia akan menyerang lawan tersebut dengan ekor kerasnya dan dalam sekejap lawannya akan terjatuh. Para ilmuwan dan ahli palaeontologi biasanya menyebut Ankylosaurus dengan sebutan 'Anky kecil'.

Archeopteryx

Archaeopteryx
Rentang fosil: Jura Akhir
Model Archaeopteryx 
lithographica sebagai pajangan di Museum Universitas Oxford.
Model Archaeopteryx lithographica sebagai pajangan di Museum Universitas Oxford.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Archaeopterygiformes
Famili: Archaeopterygidae
Genus: Archaeopteryx
Meyer, 1861
Spesies
A. lithographicaMeyer, 1861

Archaeopteryx (dari Bahasa Yunani Kuno ἀρχαῖος archaios yang berarti 'kuno' dan πτέρυξ pteryx yang bearti 'bulu unggas' atau 'sayap'; dibaca "ar-kee-OP-ter-iks" [ɑː(ɹ)kiˈɒptəɹɪks]) adalah jenis burung paling awal dan primitif yang diketahui. Binatang ini hidup pada Periode Jura sekitar 155–150 juta tahun lalu yang saat ini dikenal sebagai wilayah Jerman bagian selatan. Dalam Bahasa Jerman, Archaeopteryx dikenal sebagai Urvogel, sebuah kata yang berarti "burung yang asli" atau "burung pertama". Meskipun namanya yang asli berasal dari Bahasa Jerman, Kata ini juga digunakan dalam Bahasa Inggris.

Mamut

Mamut
Rentang fosil: Awal Pliosen hingga Pertengahan Holosen
ColumbianMammoth CollegeOfEasternUtah.jpg
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Proboscidea
Famili: Elephantidae
Genus: Mammuthus
Brookes, 1828
Spesies
Mamut adalah genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada di dunia saat ini. Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).
Ada kesalahpahaman bahwa mamut lebih besar dari gajah. Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya. Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, namun mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.

Gajah Bunting Juga Perlu Senam Lho


Senam untuk ibu hamil mungkin banyak dijumpai dan dilakukan. Namun, bagaimana dengan gajah? Ternyata gajah pun butuh senam hamil.

Mau tahu? Tengok saja di kebun binatang di Hanover, Jerman. Di sini, gajah-gajah bunting dikumpulkan untuk menjalani senam khusus untuk mereka.

Setiap hari, seorang petugas kebun binatang mengawasi mereka melakukan senam ringan. Misalnya, berjalan 5-8 kilometer agar tidak kegendutan. Di kebun binatang Hanover, tercatat lima gajah tengah bunting. Begitu rutinnya, dua bayi gajah bernama Tarak dan Shanti ikut melakukan olahraga tersebut.

Mereka diperkirakan melahirkan antara bulan April dan November.

Sementara itu, Dr Thomas Hildebrant secara khusus terbang dari Berlin menuju Australia untuk melihat hari-hari terakhir kehamilan seekor gajah asia jenis Dokkoon di kebun binatang Melbourne. Gajah ini juga melakukan senam hamil dipandu petugas Steve Blanchard.

Selama ini gajah sering mengalami kelahiran mati. Mereka mengalami masa sulit saat beranak. Tak jarang bayi gajah terjepit di jalan lahirnya.

Dalam beberapa kasus, induk gajah membawa janin mati di perutnya selama bertahun-tahun karena gagal mengeluarkannya.

Nah, senam ini juga bertujuan agar betis mereka tidak terlalu besar dan memperkuat otot, yang dibutuhkan selama proses melahirkan.

Gajah biasanya menggunakan kaki mereka sebagai tambatan saat beranak. Setelah proses melahirkan usai, ibu gajah dan bayinya diberi ruang untuk menyusui.

Inilah Fakta Menakjubkan dari Jaring Laba-laba

Jakarta – Meski sering ditakuti, laba-laba merupakan hewan tak berbahaya, dan memiliki jaring menakjubkan. Jaring laba-laba lebih kuat dari fiber alami atau sintetis di Bumi.
Menurut ahli zoologi evolusioner University of Aarhus di Denmark dan ahli jaring laba-laba Fritz Vollrath, jaring laba-laba lebih tahan lama dan elastis dibanding fiber terkuat buatan manusia (Kevlar) yang digunakan untuk membuat rompi antipeluru.
Menurut profesor emeritus teknik mesin di University of Houston John Lienhard, selain sangat lentur, jaring laba-laba mampu meregang hingga 140% tanpa rusak. Seperti dikutip dari lifeslittlemisteries, untuk bahan sekuat ini, jaring laba-laba termasuk sangat ringan.
Menurut “Book of Animal Ignorance: Everything You Think You Know Is Wrong,” jaring laba-laba yang beratnya kurang dari berat sebatang sabun mampu melingkari Bumi. Fiber protein laba-laba (gossamer) memiliki banyak fungsi. Di antaranya untuk menangkap serangga, melindungi sarang, bahkan untuk dimakan (daur ulang).
Ilmuwan telah mencoba memahami mekanisme laba-laba dalam membuat jaring, dan sejauh ini gagal menciptakan ulang jaring laba-laba di laboratorium. Kegagalan tersebut dikarenakan molekul kompleks protein dan sekuens DNA berulang di laba-laba.
Meski begitu, ilmuwan berhasil memahami bagaimana jaring laba-laba mengeras. Vollrath menemukan laba-laba mengeraskan jaring dengan mengasamkannya, metode ini mirip dengan proses dalam pembuatan fiber industri seperti nilon.
Setelah mengamati saluran jaring laba-laba, Vollrath menyatakan sebelum memasuki saluran, jaring laba-laba terdiri dari protein cair. Ketika cairan masuk saluran, sel-sel menarik air dari jaring protein, dan hidrogen dipompa ke bagian lain saluran, hal ini menghasilkan mandi asam.
Jaring laba-laba kemudian dipintal dari gel menjadi fiber solid yang ditarik melalui kelenjar asam laba-laba yang disebut kelenjar spinneret. Laba-laba memiliki 2-8 spinneret, dan biasanya berpasangan, tergantung spesies. Spinneret mengeluarkan berbagai jenis jaring, dari yang lengket hingga yang tak lengket, tergantung kebutuhan.

Otak Burung Kota Lebih Besar

 
Burung kota memiliki otak yang lebih besar dibanding burung desa. (earthweek.com)

Sekelompok peneliti asal Swedia dan Spanyol yang dipimpin oleh pakar biologi Alexei Maklakov, melakukan survei terhadap 82 spesies burung gereja, termasuk burung pipit serta jenis burung lain yang umum bertengger di 12 kota besar di kawasan Eropa tengah.
Mereka kemudian membagi burung-burung itu ke dalam kelompok yang lahir dan besar di perkotaan serta mereka yang besar di kawasan pinggiran. Kemudian peneliti membandingkan ukuran otak kedua kelompok burung itu.
Hasilnya, seperti dimuat di jurnal Biology Letters, burung yang hidup di kota besar memiliki otak yang lebih besar dibanding burung sejenis yang tinggal di pedesaan.
Peneliti memperkirakan, burung membutuhkan otak yang lebih besar dibanding burung-burung di kawasan lain agar mampu bertahan dalam lingkungan perkotaan yang penuh tantangan.
“Ini merupakan pertama kali ukuran otak diketahui menjadi faktor utama keberhasilan seekor hewan bertahan dalam lingkungan tempat tinggalnya,” kata Maklakov, seperti dikutip dari Earthweek, 30 April 2011.

Namun demikian, tetap ada beberapa pengecualian. “Beberapa jenis spesies burung berotak kecil cukup beruntung karena tetap mampu bertahan hidup di kawasan perkotaan yang dekat dengan habitat asli mereka,” ucapnya.

Dalam laporannya, para peneliti juga menyebutkan, pemerintah kota yang ingin mengundang burung-burung liar untuk tinggal di kotanya perlu membuat kawasan mereka semirip mungkin dengan habitat asli para burung.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls